Siang itu, Velly merasa kesal atas apa yang menimpanya di
sekolah. Wajahnya meredup bagai bola lampu yang kekurangan arus listrik. Tidak
sedikit pun keceriaan terlihat di wajahnya. Semua berantakan dan sia-sia
setelah apa yang dia lakukan selama ini. Rasa sakit yang tak mungkin terobati
dengan sigap. Selembar kertas yang yang dari tadi diperhatikan, kini diletakkan
di atas meja disamping ranjangnya.
Di atas kasur, Velly mebalikkan badannya sehingga
posisinya berubah menjadi menyamping. Matanya jauh menatap ke taman di luar jendela kamarnya. Sedari pulang sekolah
tadi dia belum makan, bahkan satu makanan pun belum masuk ke mulutnya.
Sepertinya Velly benar-benar kecewa atas kejadian tadi sampai nafsu makannya
pun hilang ntah kemana.
Lama berbaring di kamar, akhirnya Velly memutuskan keluar
untuk menikmati suasana udara luar. Berlama-lama di kamar juga membuatnya
bosan. Velly duduk di teras sambil menyaksikan lalu-lalang kenderaan di jalan
yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya. Tiba-tiba ponsel yang ada di
tangannya berbunyi, di saat seperti ini Velly akan selalu butuh ponselnya untuk
memutar MP3. Sebuah sms dari Amel masuk, “Vel, kamu jahat samaku. Aku pikir
selama ini kamu sahabat terbaikku.Tapi ternyata bukan”. Velly yang tidak tahu
apa-apa langsung menghubungi Amel. Tapi sayang, panggilan Velly selalu
diriject. “Jangan hubungi aku lagi” sms Amel selanjutnya. Velly semakin
bertambah bingung dan penasaran. “Aku salah apa Mel,kenapa tiba-tiba kamu sms
aku begini ?” Velly membalas. Tapi Amel tidak menjawab lagi hingga ponselnya
pun sudah tidak aktif lagi saat dihubungi
Velly
kembali terpaku dan membatu di tempat duduknya. Belum hilang di kepalanya persoalan dari sekolah, malah sakarang
ditambah sms dari Amel. Velly benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.
Selama ini Velly terkenal sebagai pribadi yang teladan, penurut, sopan, cerdas,
juga disukai oleh banyak orang.
Tidak
lama kemudia sebuah Honda CRV muncul di pekarangan rumahnya. Kedua orang tua
Velly sudah pulang kerja. Ibu dan bapak Velly keluar dari mobil dan langsung
masuk ke dalam rumah. Velly yang sedari tadi memberi tangannya untuk menyalami
kedua orang tuanya, sama sekali tidak digubris. Velly pun tercengan melihat
sikap orang tuanya yang tidak seperti biasa.
Velly
pun masuk ke dalam mengikuti ibunya dari balekang. Dia melangkah dengan cepat
agar bisa mencapai ibunya. Namun ibunya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.
Velly hanya bisa mematung penuh penasaran dan kekesalan.
Velly
berlari menuju kamarnya. Direbahkan badannya di atas kasur seraya menumpahkan
seluruh air matanya yang sudah tidak terbendung lagi. Hatinya terlalu sakit
untuk menerima kenyataan ini. Velly masih berpikir dimana kesalahannya sampai
harus sejahat ini perlakuan yang diterima.
♥♥♥♥♥
Pagi
ini Velly kembali berangkat ke Sekolah. Walaupun keadaannya sedang kacau, tapi
dia tidak mau melewatkan semua materi pelajaran. Baginya setiap ilmu yang
diperoleh sangat berguna. Velly melangkah menuju ruangan kelas dan sesampai di
sana dia melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Velly mencari
Amel untuk menanyakan persoalan sms kemaren sore, namun dia tidak menemukannya.
Velly
kembali duduk di kursinya dan tanpa sengaja dia melihat bapaknya sedang
berjalan di lorong yang kebetulan tepat di depan jendela ruangan kelas.
Bapaknya berjalan menuju ruang Kepala Sekolah. Velly mengerutkan dahinya,
penasaran ada urusan apa bapaknya ke Sekolah. Lama dia terdiam di tempat
duduknya. Velly mulai berpikir yang tidak-tidak. “Semakin hari semakin tidak
beres,ada apa ni ya” batin Velly meronta
Tidak
lama kemudia bel pun berdering, tanda pelajaran akan segra dimulai. Para siswa
pun mulai bersiap-siap mengambil posisi nya masing-masing. Dan beberapa saat
kemudia suasana sekolah menjadi hening.
♥♥♥♥♥
“Teeeettttt......” bel panjang berdering
menandakan jam belajar telah selesai dan saatnya pulang. Velly mulai menata
bukunya kemudian dimasukan ke dalam tas. Tiba-tiba seorang laki-laki dewasa
bersuara di depan kelas. Ternyata Pak Kepala Sekolah datang ke kelasnya Velly
dan memintanya untuk masuk ke kantor sejenak.
Sesampai
di ruangan Kepala Sekolah, Velly bertambah kaget lagi. Ternyata kedua orang
tuanya sudah berada di sana. Velly benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.
Wajahnya beku dan kaku, tiada sedikit pun binar cahaya di matanya.
“Velly
sebelumnya kami minta maaf” ucap Pak Kepsek. “ Ada beberapa hal yang harus kamu
ketahui itulah sebabnya kami panggil kamu ke kantor. Berdasarkan prestasimu
selama sekolah di sini, bapak yakin kamu layak mendapatkan kesempatan ini.Dan
setelah kemarin berunding dengan dewan guru, ternyata keputusannya sudah bulat.
Kita setuju untuk memilih kamu”.
“Tapi
pak sebenarnya ada apa ? saya tidak mengerti, kemarin bapak memberikan Surat
Peringatan pada saya.....”. “Itu bukan Surat Peringatan” ucap Pak Kepsek memotong
pertanyaan Velly. “Jadi apa juga ? “. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Velly.
Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Suasana ruangan menjadi hening sejenak.
“Velly,
begini sayang” ibu Velly mulai bicara. “ Di hari ulang tahunmu ini mama dan
papa mau memberikan sesuatu yang berbeda buat kamu. Tapi semuanya udah mepet,
sehingga semua tidak berjalan mulus”. “Iya Velly, kami dari pihak sekolah
memutuskan untuk memberikan kesempatan kepadamu untuk berpartisipasi dengan
sisiwa-sisiwi dari berbgai Provinsi untuk mengikuti Olimpiade Matematika di
Singapura” sambung Pak Kepala Sekolah. Velly tercengang mendengar semua itu,
tapi masih saja dia belum mengerti.
“Terus
Surat Peringatan itu apa maksudnya pak ? “ tanya Velly lagi. “Sudah jangan
dipikirkan, Kamu tidak pernah memiliki record jelek di sekolah ini. Ini ide
kedua orang tuamu” jawab Pak Kepala Sekolah. “berarti semua ini permainan ?”
tanya Velly lagi. “Iya sayang, selamat ulang tahun ya” jawab Ibu velly sambil
memeluk putri kesayangannya. Papa Velly mengeluarkan sebuah kotak kecil dari
dalam tasnya lalu menyerahkan pada Velly.
♥♥♥♥♥
Sesampai
di rumah, Velly langsung memasuki ruang tengah. Tiba-tiba Velly melihat sebuah
kotak yang sudah tergeletak di meja. Kotak itu terbungkus rapi dan sangat
anehnya saat Velly menyentuhnya, dari dalam terdengar sesuatu bagai suara detak
jarum jam. Velly mulai penasaran dengan kotak itu. Namun seketika dia
membayangkan adegan-adegan di film tentang bom waktu. Secepat itu juga dia
membawa kabur benda itu dari dalam rumahnya, tapi Velly gagal membawanya
keluar. Velly terjatuh di lantai dan kotak yang telah terbungkus rapi itu telah
meledak.
Velly
menutup erat-erat mukanya dengan kedua telapak tangannya. Dia sangat ketakutan
dan tidak lama dari itu serombongan anak-anak SMA dari luar masuk ke dalam
rumah. “Happy birth day to you,Happy
birthday to you...” nyanyian selamat ulang tahun terdengar dari rombongan
anak SMA tadi. Velly membuka matanya pelan-pelan dan sedikit kaget atas apa
yang terjadi barusan. Kertas warna-warni berserakan di ruangan itu dan semua
bertuliskan selamat ulang tahun. Ternyata kotak yang telah terbungkus rapi tadi
adalah bom plastik yang di sudah dirancang teman-temannya.
Velly
melemparkan senyumnya melihat aksi teman-temannya yang tadinya ketakutan
sekarang malah menjadi bahagia, keadaan telah berubah. Dari rombongan
teman-temannya, trlihat Amel sedang membawa sepiring kue ulang tahun. Di
atasnya tersemat lilin yang menyala dengan angka 17, menunjukkan ulang tahun
Velly yang ke-17.
“Tiup
lilinnya dong, jangan liatin aja ! “ pinta Amel. Velly meniupkan lilin dan yang
lain sambil masih menyanyikan lagu selamat ulang tahun. “Jadi kemaren itu cuma
permainanmu Mel ? “ tanya Velly. “ Emang enak dikerjain...hehhee “ jawab Amel
sembarangan sambil mencubit pipi sahabatnya.