Selasa, 07 Mei 2013

Permainan


            Siang itu, Velly merasa kesal atas apa yang menimpanya di sekolah. Wajahnya meredup bagai bola lampu yang kekurangan arus listrik. Tidak sedikit pun keceriaan terlihat di wajahnya. Semua berantakan dan sia-sia setelah apa yang dia lakukan selama ini. Rasa sakit yang tak mungkin terobati dengan sigap. Selembar kertas yang yang dari tadi diperhatikan, kini diletakkan di atas meja disamping ranjangnya.
            Di atas kasur, Velly mebalikkan badannya sehingga posisinya berubah menjadi menyamping. Matanya jauh menatap ke taman di  luar jendela kamarnya. Sedari pulang sekolah tadi dia belum makan, bahkan satu makanan pun belum masuk ke mulutnya. Sepertinya Velly benar-benar kecewa atas kejadian tadi sampai nafsu makannya pun hilang ntah kemana.
            Lama berbaring di kamar, akhirnya Velly memutuskan keluar untuk menikmati suasana udara luar. Berlama-lama di kamar juga membuatnya bosan. Velly duduk di teras sambil menyaksikan lalu-lalang kenderaan di jalan yang berjarak sekitar 20 meter dari rumahnya. Tiba-tiba ponsel yang ada di tangannya berbunyi, di saat seperti ini Velly akan selalu butuh ponselnya untuk memutar MP3. Sebuah sms dari Amel masuk, “Vel, kamu jahat samaku. Aku pikir selama ini kamu sahabat terbaikku.Tapi ternyata bukan”. Velly yang tidak tahu apa-apa langsung menghubungi Amel. Tapi sayang, panggilan Velly selalu diriject. “Jangan hubungi aku lagi” sms Amel selanjutnya. Velly semakin bertambah bingung dan penasaran. “Aku salah apa Mel,kenapa tiba-tiba kamu sms aku begini ?” Velly membalas. Tapi Amel tidak menjawab lagi hingga ponselnya pun sudah tidak aktif lagi saat dihubungi
Velly kembali terpaku dan membatu di tempat duduknya. Belum hilang di kepalanya  persoalan dari sekolah, malah sakarang ditambah sms dari Amel. Velly benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Selama ini Velly terkenal sebagai pribadi yang teladan, penurut, sopan, cerdas, juga disukai oleh banyak orang.
Tidak lama kemudia sebuah Honda CRV muncul di pekarangan rumahnya. Kedua orang tua Velly sudah pulang kerja. Ibu dan bapak Velly keluar dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah. Velly yang sedari tadi memberi tangannya untuk menyalami kedua orang tuanya, sama sekali tidak digubris. Velly pun tercengan melihat sikap orang tuanya yang tidak seperti biasa.
Velly pun masuk ke dalam mengikuti ibunya dari balekang. Dia melangkah dengan cepat agar bisa mencapai ibunya. Namun ibunya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar. Velly hanya bisa mematung penuh penasaran dan kekesalan.
Velly berlari menuju kamarnya. Direbahkan badannya di atas kasur seraya menumpahkan seluruh air matanya yang sudah tidak terbendung lagi. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini. Velly masih berpikir dimana kesalahannya sampai harus sejahat ini perlakuan yang diterima.
♥♥♥♥♥
Pagi ini Velly kembali berangkat ke Sekolah. Walaupun keadaannya sedang kacau, tapi dia tidak mau melewatkan semua materi pelajaran. Baginya setiap ilmu yang diperoleh sangat berguna. Velly melangkah menuju ruangan kelas dan sesampai di sana dia melemparkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Velly mencari Amel untuk menanyakan persoalan sms kemaren sore, namun dia tidak menemukannya.
Velly kembali duduk di kursinya dan tanpa sengaja dia melihat bapaknya sedang berjalan di lorong yang kebetulan tepat di depan jendela ruangan kelas. Bapaknya berjalan menuju ruang Kepala Sekolah. Velly mengerutkan dahinya, penasaran ada urusan apa bapaknya ke Sekolah. Lama dia terdiam di tempat duduknya. Velly mulai berpikir yang tidak-tidak. “Semakin hari semakin tidak beres,ada apa ni ya” batin Velly meronta
Tidak lama kemudia bel pun berdering, tanda pelajaran akan segra dimulai. Para siswa pun mulai bersiap-siap mengambil posisi nya masing-masing. Dan beberapa saat kemudia suasana sekolah menjadi hening.
♥♥♥♥♥
“Teeeettttt......” bel panjang berdering menandakan jam belajar telah selesai dan saatnya pulang. Velly mulai menata bukunya kemudian dimasukan ke dalam tas. Tiba-tiba seorang laki-laki dewasa bersuara di depan kelas. Ternyata Pak Kepala Sekolah datang ke kelasnya Velly dan memintanya untuk masuk ke kantor sejenak.
Sesampai di ruangan Kepala Sekolah, Velly bertambah kaget lagi. Ternyata kedua orang tuanya sudah berada di sana. Velly benar-benar tidak mengerti dengan semua ini. Wajahnya beku dan kaku, tiada sedikit pun binar cahaya di matanya.
“Velly sebelumnya kami minta maaf” ucap Pak Kepsek. “ Ada beberapa hal yang harus kamu ketahui itulah sebabnya kami panggil kamu ke kantor. Berdasarkan prestasimu selama sekolah di sini, bapak yakin kamu layak mendapatkan kesempatan ini.Dan setelah kemarin berunding dengan dewan guru, ternyata keputusannya sudah bulat. Kita setuju untuk memilih kamu”.
“Tapi pak sebenarnya ada apa ? saya tidak mengerti, kemarin bapak memberikan Surat Peringatan pada saya.....”. “Itu bukan Surat Peringatan” ucap Pak Kepsek memotong pertanyaan Velly. “Jadi apa juga ? “. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Velly. Semua yang ada di ruangan itu terdiam. Suasana ruangan menjadi hening sejenak.
“Velly, begini sayang” ibu Velly mulai bicara. “ Di hari ulang tahunmu ini mama dan papa mau memberikan sesuatu yang berbeda buat kamu. Tapi semuanya udah mepet, sehingga semua tidak berjalan mulus”. “Iya Velly, kami dari pihak sekolah memutuskan untuk memberikan kesempatan kepadamu untuk berpartisipasi dengan sisiwa-sisiwi dari berbgai Provinsi untuk mengikuti Olimpiade Matematika di Singapura” sambung Pak Kepala Sekolah. Velly tercengang mendengar semua itu, tapi masih saja dia belum mengerti.
“Terus Surat Peringatan itu apa maksudnya pak ? “ tanya Velly lagi. “Sudah jangan dipikirkan, Kamu tidak pernah memiliki record jelek di sekolah ini. Ini ide kedua orang tuamu” jawab Pak Kepala Sekolah. “berarti semua ini permainan ?” tanya Velly lagi. “Iya sayang, selamat ulang tahun ya” jawab Ibu velly sambil memeluk putri kesayangannya. Papa Velly mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam tasnya lalu menyerahkan pada Velly.
♥♥♥♥♥
Sesampai di rumah, Velly langsung memasuki ruang tengah. Tiba-tiba Velly melihat sebuah kotak yang sudah tergeletak di meja. Kotak itu terbungkus rapi dan sangat anehnya saat Velly menyentuhnya, dari dalam terdengar sesuatu bagai suara detak jarum jam. Velly mulai penasaran dengan kotak itu. Namun seketika dia membayangkan adegan-adegan di film tentang bom waktu. Secepat itu juga dia membawa kabur benda itu dari dalam rumahnya, tapi Velly gagal membawanya keluar. Velly terjatuh di lantai dan kotak yang telah terbungkus rapi itu telah meledak.
Velly menutup erat-erat mukanya dengan kedua telapak tangannya. Dia sangat ketakutan dan tidak lama dari itu serombongan anak-anak SMA dari luar masuk ke dalam rumah. “Happy birth day to you,Happy birthday to you...” nyanyian selamat ulang tahun terdengar dari rombongan anak SMA tadi. Velly membuka matanya pelan-pelan dan sedikit kaget atas apa yang terjadi barusan. Kertas warna-warni berserakan di ruangan itu dan semua bertuliskan selamat ulang tahun. Ternyata kotak yang telah terbungkus rapi tadi adalah bom plastik yang di sudah dirancang teman-temannya.
Velly melemparkan senyumnya melihat aksi teman-temannya yang tadinya ketakutan sekarang malah menjadi bahagia, keadaan telah berubah. Dari rombongan teman-temannya, trlihat Amel sedang membawa sepiring kue ulang tahun. Di atasnya tersemat lilin yang menyala dengan angka 17, menunjukkan ulang tahun Velly yang ke-17.
“Tiup lilinnya dong, jangan liatin aja ! “ pinta Amel. Velly meniupkan lilin dan yang lain sambil masih menyanyikan lagu selamat ulang tahun. “Jadi kemaren itu cuma permainanmu Mel ? “ tanya Velly. “ Emang enak dikerjain...hehhee “ jawab Amel sembarangan sambil mencubit pipi sahabatnya.